Keberpihakan Islam kepada Kaum Dhuafa

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,….(Al Baqarah :177)

Keberpihakan Islam ini bukan sebatas pada aktivitas yang memecahkan berbagai masalah sosial dan kemanusian kaum dhuafa, melainkan lebih dari itu adalah bagaimana menyelamatkan mereka dari bahaya kesesatan dan kekafiran, kemudian membawa mereka menuju keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Konsep ini jelas berbeda dengan konsep yang dimiliki oleh kaum sekuler atau sosialis yang melakukan keberpihakan kepada kaum dhuafa hanya sebatas pada penyelesaian masalah kebutuhan sosial dan kemanusiaan yang bersifat duniawi.

Pengertian Dhuafa

Ada beberapa ayat Al Qur’an yang menjelaskan arti kata dhufa yang berasal kata dh’afa atau dhi’afan. Salah satu firman Allah menyebutkan, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah (dhi’afan) , yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”(an Nisaa’: 9)

Dalam beberapa ayat yang lain, dhuafa disebut sebagai mustadh’afin, diantaranya dalam Surah Al Qashash ayat 5  “dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (alladzinastudh’ifun), surah Al A’raaf : 137 “ dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu (yustadh’afun), dan dalam surat An Nisa : 75, “. mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah (mustadh’afin).

Berdasarkan beberapa  ayat di atas, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa yang dimaksud kaum dhuafa adalah orang-orang lemah atau tertindas

Macam-macam Dhuafa

Allah SWT dalam Al Qur’an telah menjelaskan pula mengenai orang-orang yang tergolong  dhu’afa, mereka antara lain; anak-anak yatim; orang-orang miskin;ibnussabil (musafir); orang yang meminta-minta; hamba sahaya (al-Baqarah; 177); tunanetra;orang cacat fisik;orang sakit (an Nuur:61); manusia lanjut usia (al Israa’: 23); janda miskin (al Baqarah: 240); orang yang berpenyakit sopak (lepra) (Ali Imran: 49); tahanan atau tawanan (al Insan: 78); mualaf (orang yang baru memeluk Islam, orang-orang fakir; orang-orang yang berutang (gharimin); orang yang berjuang di jalan Allah (fii Sabilillah) (at Taubah:60); buruh atau pekerja kasar (ath Thalaq:6);nelayan (al Kahfi:79); rakyat kecil yang tertindas (an Nisaa’:75);anak-anak kecil dan bayi (al An’aam:140)

 

Perintah berbuat baik kepada Dhuafa

Allah SWT dalam Al Qur’an telah memerintahkan kepada umatNya agar berbuat baik kepada kaum dhu’afa. Salah satu ayatnya menyatakan,” dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin,”(Al Baqarah:83)

Perintah berbuat baik kepada mereka ini, antara lain, mengucapkan perkataan yang baik kepada mereka (an Nisaa’:8) memuliakan mereka (an Nisaa’:36) memelihara, mengasuh, dan mengurus mereka secara patut (an Nisaa’127); menggauli mereka sebagai suadara (al Baqarah:177); memberikan mereka nafkah (al Baqarah:215);memberikan mereka harta (al-Baqarah: 177); memberikan mereka makan (al-Insaan:8);memberi mereka sedekah (al Baqarah:272);memperbaiki tempat tinggal mereka dan meindungi harta mereka (al Kahfi:82);membela (an Nisaa’:75);melindungi mereka dari kezaliman (al Kahfi:79);mengobati mereka yang sakit(Ali Imran:49);mengajak mereka makan bersama (asy Syuara’:61);memberikan mereka pendidikan dan pengajaran yang baik (‘Abasa:1-11);memelihara mereka dengan penuh kasih sayang dan sopan santun (al Israa’23);memaafkan dan berlapang dada pada mereka (an Nuur:22); mengucapkan perkataan yang sopan (al Israa’:23);serta memberi nasihat dan mendakwahkan mereka (yusuf:30-41)

 

Hak-hak Dhuafa

Allah SWT dalam Al Qur’an juga telah memerintahkan kepada umatNya agar memenuhi hak-hak kaum dhuafa. Diantaranya Allah SWT menyatakan,”dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”(al Israa’:26)

Adapun hak-hak kaum dhuafa adalah memperoleh zakat (at Taubah:60); infaq (al Baqarah:273); fidyah (denda bagi orang yang berat dalam berpuasa) (al Baqarah:184); harta warisan orang tua (an Nisaa’:5) ghanimah (harta rampasan perang (al Anfal:41)fa’i (harta rampasan daerah musuh) (al Hasyr:7); denda zihar (sanksi memandang isteri sebagai ibu kandung) (al Mujaadillah:2-4); kafarat sumpah (sanksi karena bersumpah palsu)(al An’aam:89); harta warisan orang lain (an Nisaa’:8); zakat hasil panen kebun atau pertanian (al An’aam:141); zakat hasil pengembakbiakan dan penjualan hewan (al An’aam:142); zakat emas dan perak (at Taubah: 34-35); upah pekerja (al Waaqi’ah;6); pendidikan dan pengajaran yang sama (‘Abasa:1-3);perlindungan hukum(al Kahfi:79 & 82);memberi daging kurban (al Hajj:34-35) dan jaminan sosial (at Taubah:60 dan 103).

Larangan terhadap kaum Dhuafa

Dalam al Qur’an juga terdapat beberapa larangan Allah SWT bagi kita terhadap kaum dhuafa, antara lain adalah menghardik mereka (al Maa’uun:1-2 dan adh Dhuhaa:10);membentak mereka (al Israa’:23) bertindak sewenang-wenang (zalim) pada mereka (adh Dhuhaa:9);mencampuradukkan dan memakan harta mereka secara tidak sah; menyerahkan harta kepada mereka yang belum sempurna akalnya;membelanjakan harta mereka secara tergesa-gesa;menukar harta mereka yang baik dengan yang buruk;ingkar janji dengan mereka (an Nisaa’:2-6);mendekati harta mereka (al Israa’:34 dan al An’aam:152);menelantarkan dan menjadikan mereka lemah (an Nisaa’:9);membuat mereka kelaparan (al Balad;14);menghina,merendahkan, memalingkan muka, bermuka masam, tidak mempedulikan, tidak melayani, tidak memperhatikan pembicaraan dan harapan mereka; tidak memberi pendidikan dan pengajaran yang baik kepada mereka;mengabaikan mereka (‘Abasa:1-10);tidak menghormati dan memuliakan (al Fajr:17-21);bersumpah tidak mau memberi makan dan menolong mereka (an Nuur:22);bakhil, kikir dan pelit kepada mereka (al Ma’aarij:19-25).

Imbalan dari Allah

Allah SWT menjanjikan dalam Al Quran bahwa mereka yang berbuat baik, memenuhi hak, dan tidak melanggar larangan terhadap kaum dhuafa akan diberi ganjaran. Ganjaran itu antara lain adalah menyebut mereka sebagai orang yang berbakti;benar imannya, dan orang yang bertakwa kepadaNya (al Baqarah:177);sebagai orang yang telah melakukan pendakian (perjuangan dijalan Allah) (al Balad:12-16);mereka dipelihara dari kerusakan dan kehancuran, wajah mereka jernih, hati mereka senantiasa bergembira (kebahagiaan di dunia);memperoleh surga (kebahagiaan di akhirat) (al Insaan:7-12);dihapuskan sebagian kesalahan mereka (al Baqarah:271);mendapatkan ridha Allah (ar Ruum:38);termasuk golongan kanan (al Balad:18);mendapat karunia, mendapat perlindungan , dan petunjuk Allah, hatinya puas dan termasuk orang yang bersyukur (ad Dhuha:5-11)

Sanksi dari Allah

Dalam al Quran, Allah SWT juga telah menetapkan sanksi kepada orang-orang yang tidak mau berbuat baik,merampas hak-hak kaum dhuafa, dan melanggar larangan terhadap mereka. Sanksinya antara lain berdoa besar (an Nisaa’:2);mendapat azab di dunia dan akhirat (al Fajr:18-33); akan dimasukkan ke dalam api neraka (adz Dzaariyaat:15);mendapat siksa dalam neraka (al Fajr:15,23);menelan api sepenuh perutnya dan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (an Nisaa’:10);dicap sebagai pendusta agama (al Maa’uun:1);rezekinya dibatasi (al Fajr:15-16);dimasukkan ke dalam golongan kiri dan berada dalam neraka yang ditutup rapat(al Balad;19-20);mendapatkan teguran Allah (‘Abasa:1-2).

Keberpihakan Allah SWT kepada kaum dhuafa sedemikian detail dan terperinci. Hal ini juga memberi gambaran bahwa sedemikian besar perhatian, pembelaan, dan perlindungan yang Allah berikan kepada mereka. Semuanya memperkuat dan memperjelas konsepsi Islam dalam mengatasi masalah sosial kemanusiaan, khususnya pengentasan dan pemberdayaan kaum dhuafa. Disini, Allah selain telah memberikan batasan yang jelas tentang dhuafa yang biasanya dilakukan oleh manusia, juga telah memberikan cara-cara konkret dalam memberi bantuan serta pertolongan kepada mereka. Disamping itu, Allah juga memberikan penghargaan kepada orang-orang yang memiliki keberpihakan dan kepeduliaan atas nasib kaum dhuafa dan menentukan sanksi kepada mereka yang tidak mau membantu, menolong, mempedulikan, membela dan melindungi golongan dhuafa ini di dunia dan akhirat.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: